[PROLOG] One More Time One More Chance

Anyeong Anyeong Reader yang budiman

14

PROLOG

ONE MORE TIME ONE MORE CHANCE 

jadi

Title                : One More Time One More Chance

Author           : Adaya Muminah Aljabar ( @AdayaOe09 )

Main Cast     : Choi Sooyoung dan Choi Siwon

Other Cast   : Cho Kyuhyun , Seohyun, Im Yoona, Tifanny Hwang, Yunho U-Know, Lee Donghae

Type                : Chapter / Series

Genre              : Romance, Family, Angst, Fantasy

Rating            : PG-18 ( All reader who Open mind )

Disclaimer    : This story pure my imagined and my fantasy. All the Cast just belong to God but the story is my own. Hope you like it guys. Not for to copy and Please don’t be plagiator!

 PROLOG 

“Every person has a dark side. What defines a person with good character is not a spotless life of constant kindness, smiles and even temperament. But rather, it’s the yearning to learn from your mistakes, applying it, making amends for them and choosing not to repeat them that defines good character. These are the friends to keep in your life because they have stared adversity in the face and became a better person because of it.” 
― Shannon L. Alder

************************

Author POV –

” Ya Tuhan. Kau luar biasa.” Jerit Fanny saat melihat Sooyoung keluar dari balik tirai. Sooyoung terlihat begitu anggun dengan balutan gaun sutera putih yang menjuntai hingga ke lantai. Dada gaun itu dibuat berpotongan rendah dan dihiasi brokat putih lembut dalam jalinan benang emas yang membualat menjadi hiasan bunga buatan di gaun pengantin putih itu. Sooyoung menyukai kesederhanaan, tak ada batu rubi atau permata di lehernya, hanya ada kalung perak kecil dengan gandul bintang yang senada dengan hiasan kepalanya.

” Bukankah kau berpikir hal yang sama denganku, Yong?” Fanny berbalik dan melihat ke arah Yoona yang terlihat duduk bosan di kursinya.

” Selera Unnie tak pernah masuk dalam seleraku. Satu yang membuatku bertanya, dia bodoh dalam memilih gaun, tapi dia pandai memilih suami.” Kata Yoona tak acuh.

Sooyoung terlihat kecewa saat mendengar perkataan adiknya. Yoona selalu seperti itu, berkebalikan dengannya. Ayahnya memberikan segalanya pada Yoona, termasuk hak Sooyoung untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi. Dia dan Yoona, hanya terpaut tiga bulan. Ibunya menikahi ayah Sooyoung saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Cukup lama bagi mereka untuk menyesuaikan diri, Yoona tak terbiasa dengan kehidupan barunya yang sederhana. Dia selalu meminta lebih dalam hidupnya, sejak saat itu Sooyoung selalu mengalah, dan berusaha membahagiakan adiknya. Karena bagi Sooyoung, kebahagiaan adiknya adalah kebahagiaan ayahnya juga. Karena itu Sooyoung menolak melanjutkan untuk melanjutkan ke universitas, dan memberikan haknya untuk Yoona. Gadis itu pandai dan pantas mendapatkan gelar dari Universitas ternama seperti Cambridge. ” Maafkan aku, Yong. Apa gaunku menggangumu?”

“Aku kasihan pada Siwon Oppa.” Ejek Yoona, sebelum berlalu melangkahkan kakinya keluar dari pintu galeri.

Sooyoung melihat punggung adiknya yang menjauh. Senyum menyesal tergambar di wajahnya. Dia menunduk sesaat dan memandang Fanny yang terlihat kesal pada Yoona. ” Dia menyebalkan.” Geram Fanny.

“Tetap. Dia tetap adikku.”

*************************

Sakit. Sakit. Semua tubuhku sakit.

Sooyoung mendengar jeritan-jeritan pilu bergema di telinganya. Dia merasa panas dan perih di setiap jengkal tubuhnya. Bibirnya kering dan kepalannya berdenyut nyaring. Sooyoung mencoba untuk membuka matannya yang terpejam perih. Dia bisa merasakan ada aliran darah yang mengucur dari kepalannya.

 Apa aku sudah mati…..

Sooyoung mencoba sekali lagi untuk mengerahkan indranya yang masih berfungsi. Dia tahu dia sudah tak ada di dunia lagi. Karena dunia tak memiliki tanah sepanas ini. Dunia tak memiliki langit yang menjatuhkan bola-bola es bersamaan dengan bola api yang membakar tubuhnya.

 Ini neraka….

Sooyoung mendengarnya. Suara kasar dari dalam kepalannya. Dia mendengar pemilik suara itu tertawa meremehkan. Sooyoung mencoba untuk memusatkan pikirannya pada suara tawa itu.

Kau siapa?

 Aku adalah kematian.

Sooyoung menegang. Dia pasti menegang jika saja dia tak merasa semua tulangnya remuk. Suara itu semakin jelas di telinganya.

 Apa aku sudah mati?

Sooyoung mencoba bertanya kembali pada sang kematian. Dia mati. Tapi kenapa semua tubuhnya terasa sakit.

 Apa aku sudah mati?

Sooyoung mengulangi lagi pertannyaanya. Dia menunggu hingga cukup lama sampai yakin bahwa suara itu hanya khayalannya saja. Dia ingin menangis, jika bisa. Dia ingin menjerit, karena dia tak tahu esensi dirinya. Lebih dari kesakitan. Sooyoung merasa frustasi karena tak tahu bagaimana sebenarnya keadaannya.

 Kenapa kau diam?

Sooyoung berteriak lantang. Dia tahu dia bisa berteriak dengan suara dalam hatinya. Beruntung Tuhan menciptakan hati kecil. Karena saat ini dia tak yakin dapat menggerakkan bibirnya yang terasa membeku.

 Tidak.Belum.

Sooyoung hampir yakin dia bisa mengeryit saat mendengar nada ragu dari sang kematian. Sooyoung merasakan angin membelai pipinya saat dia mulai mendapatkan kekuatan untuk mengerjap dan mengerakkan tubuhnya. Tapi dia melayang di dalam kegelapan yang menyesakkan. Dia menyapukan pandangan ke sekelilingnya dan tak mendapat apapun. Hanya kegelapan total yang membuat seluruh indranya kelu. Dia mencoba menarik udara ke dalam paru-parunya yang tak bisa beradaptasi dalam kegelapan. Tidak saat ini maupun saat dia masih benar-benar hidup, dia selalu benci kegelapan.

 Cahaya. Cahaya.

Sooyoung mengerjap kaget saat tiba-tiba kegelapan itu sirna. Dia sekarang ada di tebing berbatu. Dihadapannya membentang lautan yang bewarna merah. Sooyoung mengernyit takut saat melihat banyak sekali tubuh yang terbakar dalam laut yang digenangi api itu. Sooyoung mundur agar dia tak terjatuh.

 Neraka….

Sooyoung menutup telinganya saat ada tubuh-tubuh baru berjatuhan dari langit merah yang membentang di atasnya. Mereka berteriak memekakan telinga. Sooyoung mencoba untuk mundur lebih jauh dari pemandangan menyedihkan itu. Dia mati. Benar-benar mati.

 “Belum.”

Sooyoung mendongak saat suara itu tak datang dari kepalanya. Tapi dari lelaki tampan di hadapannya. Suara kasar yang sama. Dia melihat sosok hitam dihadapannya. Siapa sangka sang kematian adalah seorang lelaki yang begitu tampan. Matannya sewarna madu. Tapi saat dia semakin mendekat mata itu bisa membentuk pusaran yang menghanyutkan. Rambutnya merah, semerah darah. Bahkan lautan api di hadapannya tak mampu menandingi kengerian yang ditimbulkan rambut itu pada paras tampan di hadapannya. Dia memiliki tubuh ramping yang tinggi. Sooyoung tahu dia memiliki tubuh yang indah jika saja dia tak terlalu repot menyampirkan jaring-jaring hitam yang melingkupi bahunya. Sooyoung juga merasa tergangu dengan topi bulu yang sepertinya ditenun dari bulu rubah.

 “Lalu kenapa aku ada di sini?”

 Lelaki itu tersenyum saat menyadari gadis dihadapannya tak sedikitpun takut padanya. Tak seperti kebannyakan jiwa yang lain. Gadis itu memiliki kemurnian hati yang membuat Kyuhyun merasa perih saat menyaksikan kehancuran yang dirasakan jiwa seputih salju itu. Dia jujur dan tak melukai orang lain. Dia baik dan tersenyum pada musuh. Hanya saja dia bodoh. Kyuhyun sudah mengawasi gadis musim semi itu sejak lama. Dia pemilik toko bunga yang selalu ramai akan pengunjung. Gadis itu memiliki banyak orang yang disayanginya, tapi ironisnya hanya segelintir yang membalas kasihnya. Dia tak pernah mengeluh soal hidupnya, dia berterimakasih pada orang yang menyakitinya, dan dia adalah hamba Tuhan yang sangat taat. Hanya saja Kyuhyun merasa gadis ini begitu kasihan.

Kyuhyun tak mau memberi gadis ini harapan. Tapi dia tahu kejadian yang membawa gadis ini berada di nerakanya. Dia mencoba bunuh diri. Dan tak ada kejahatan yang lebih kejam dibanding dengan menentang takdir Tuhan. Kyuhyun bisa melihat masa depan kelam dari gadis dihadapannya. Tapi itu adalah takdirnya. Dan dia tak boleh memutus jalinan takdir dengan mengakhiri hidupnya. Hanya saja, ada rasa kasih aneh yang muncul di hati sang kematian saat melihat kejadian sebelum tabrakan berantai itu menimpa gadis itu.

 “Aku hanya ingin menujukkan padamu, tempat yang tepat untuk manusia yang mencoba membelotkan takdir.”

Gadis itu terdiam sesaat. Ada kerut pedih di dahinya yang lembut. Kyuhyun mencoba mendekat dan menepuk pundaknya. Dia merasa aneh karena ini kali pertama dia memberi penghiburan pada jiwa yang harusnya disiksa. Tapi tetap saja, kemurnian jiwa gadis itu melembutkan hati Kyuhyun yang keras. Sebagai seorang kematian, Kyuhyun harus bisa menahan gejolak emosinya. Dia tak boleh tersenyum dan bersedih. Bersimpati adalah kesalahan yang harus dihindari. Tapi gadis di hadapannya adalah pengecualian.

 “Aku tak mengerti.”

 Kyuhyun tersenyum lembut saat meilihat kebingungan melintasi wajah Sooyoung. Senyum pertamannya sejak ratusan ribu tahun menangani para jiwa yang tak diterima dunia.

 “ Kau akan mengerti. Nanti.”

 Sooyoung mendongak saat melihat senyum tulus dari bibir sang kematian.

 “ Kau bilang aku belum mati? Tapi kenapa aku ada di neraka? ”

 Kyuhyun menghela nafas. Mencoba memikirkan penjelasan masuk akal yang mungkin tak dapat dicerna oleh gadis itu. “ Aku ingin memberimu pilihan.”

 Gadis itu terdiam. Menunggu Kyuhyun melanjutkan ucapannya.

“ Kau akan segera mati, jika dua jam dari sekarang tubuhmu tak segera mendapat pertolongan. Dan aku yakin, tak ada ambulans atau kendaraan manusia fana manapun yang mampu menembus badai salju yang sedang melingkupi daerah tempat tubuhmu terbaring. Dan jika kau meninggal aku akan segera membawamu. Dan anak buahku yang tak memiliki hati itu akan dengan senang hati memanggangmu ke dalam lautan api yang ada di balik tubuhku. Kau akan terbakar karena dosamu memutus takdir Tuhan. Kau akan tersiksa hingga akhir dunia. Kau akan menjerit dan menangis meminta pengampunan yang sudah terlambat. Tapi….”

 “Tapi?” ulang Sooyoung.

“ Tapi kau bisa memilih untuk hidup. Aku akan membiarkanmu hidup. Dan kau akan mengalami kepahitan karena melihat segalanya lagi dan lagi. Kau harus belajar walau kau bisa tak berarti kau harus. Kau akan mengalami siksaan yang lebih parah dibandingkan dengan kobaran api neraka. Kau akan hampa dan menangis dalam kesendirian jika kau tak menemukan jawaban dari kehidupanmu. “

 Sooyoung mengernyit ragu. “ Aku tak yakin aku benar-benar mengerti apa maksudmu. Kau terus mengulang-ulang memutus takdir. Apa yang kulakukan? Setahuku aku akan menikah dan bahagia. Tapi tiba-tiba semua tubuhku terasa remuk. Dan aku ada di neraka bersama lelaki yang mengaku sang Kematian, yang terus mengulang-ulang kepedihan dan memutus takdir. Bisakah kau berbicara dalam bahasa yang mungkin ku mengerti? “

 Sesuai dugaan Kyuhyun. Gadis di hadapannya tak mengingat alasannya mengakhiri hidup. “Kau hanya bisa memilih satu. Hidup atau mati?” jawab Kyuhyun tak menghiraukan kepahitan dalam suara gadis itu.

 “ Tentu saja hidup.” Jawab Gadis itu dengan mantab. “ Siapapun memilih hidup.”

Kyuhyun tersenyum saat ingin mendebat gadis di hadapannya. Tapi dia tak merasa sampai hati untuk melakukannya. Kepahitan yang dialaminya sudah cukup. Ditambah pilihannya untuk hidup. Kyuhyun tak memiliki wewenang untuk memperlihatkan kejadian yang menimpa gadis itu. Itu adalah kuasa dan peraturan yang dibuat Tuhan. Dan dia tahu dia tak mampu melanggarnya. Karena semua jiwa yang ditolak oleh bumi akan memilih kematian jika mereka tahu alasan yang sesungguhnya hingga jiwa mereka sampai di neraka.

 “ Kau yakin? Mati itu mudah. Hidup itu sulit.”

Gadis itu tersenyum lembut. “ Aku tak tahu. Tapi aku yakin aku tak akan menyesali pilihanku.”

Kyuhyun menahan dirinya untuk tidak merengkuh jiwa lembut dihadapannya. Dia mengangguk dan mengibaskan tangannya dengan lembut sampai sebuah portal hitam terbentang dihadapannya. “ Kau akan melupakan segalannya. Kau akan kembali dimana kau tak mengerti apa-apa. Kau harus mencari jawabannya. Kau akan melupakan kunjunganmu di sini, dan hidupmu tak akan pernah sama lagi. Kau harus membelok pada jalan lain jika kau tak ingin berakhir di sini. Dan….” Kyuhyun berhenti sesaat. “ Aku akan mendoakan kebahagiaanmu.”

Gadis itu tersenyum kecil sebelum memasuki portal hitam yang membawanya pada penderitaan dunia. “ Semoga beruntung. Aku akan selalu mengawasimu, Nak.”

 ***********************

“Dia sadar! Dia sadar! Panggil dokter!” Teriakan itu terus bergema di dalam kamar bercat putih itu. Seorang lelaki mendekat ke wajah gadis yang saat ini sedang terbaring lemah di atas ranjang. ” Soo…Soo…” Bisik lelaki itu perlahan. Dia mencoba meraih jemari Sooyoung yang mendingin. Dia bisa merasakat denyut lembut yang ada di pergelangan gadis itu mulai memacu jantungnya.

” Apa dia sudah sadar?,” jerit seorang gadis yang terdengar terengah dari arah pintu. Bluse putihnya basah karena keringat. ” Apa unnie sudah sadar?” ujar Yoona lirih. Dia menyentuh perlahan punggung lelaki itu dan menepuknya pelan, ada jarak yang sengaja mereka jaga, sebuah rahasia yang mereka simpan dari sentuhan-sentuhan lembut itu.

” Aku melihatnya menggerakkan tangan.” Gumam Siwon lirih, wajahnya masih menatap Sooyoung yang memberikan gerakan kecil di matanya. Bulu mata lentik wanita itu menjadi fokus Siwon, dia mencoba memperhatikan dengan perlahan saat Sooyoung membuka matanya. Siwon tersenyum lega, air mata hampir keluar saat melihat calon istrinya membuka matanya. Mata coklat itu menatap lemah saat paramedis datang dan menjauhkan Siwon darinya.

Siwon mundur perlahan, menempatkan diri di samping Yoona yang memandangnya dengan perasaan takut. ” Jika dia sadar….Dia akan mengingatnya..Apa …Apa yang akan kita lakukan?”

Siwon menghujamkan tatapanya pada Yoona. ” Apa kau menginginkan kakakmu meninggal?” geramnya di balik bibirnya. ” Apa yang kita lakukan adalah kesalahan Yoona, untuk itu lupakan.”

Yoona ingin mendebat Siwon, tapi suara jeritan Sooyoung membuatnya mengalihkan wajahnya. “Unnie?”

” SAKIT..SAKIT…”

Siwon mencoba menyibak kerumunan paramedis di hadapannya. Dia bisa melihat Sooyoung bergelung seperi bola. Mulanya, rasa takjub menguasai Siwon saat melihat Sooyoung menggeliat dengan penuh kekuatan. “Soo…Soo… Ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba menjerit kesakitan?” bentak Siwon pada salah satu Dokter yang terlihat bingung.

” SAKIT …SA..KIT….” Jerit Sooyoung yang entah mendapat kekuatan dari mana. Dia menggeliat lagi membuat jarum infus itu terpental dari tangannya. Siwon mencoba menenangkannya, tapi wanita itu menggeliat dengan kesakitan di wajahnya.

Dokter yang belum mampu menguasai keterkejutan akibat kekuatan yang didapat Sooyoung untuk bergerak, mencoba untuk menahan lengan Sooyoung yang kaku. Jemari rapuh wanita itu mencengkram lengan kirinya yang masih terbalut perban dengan keras. ” SAKIT..PA..NAS…”

Siwon mengikuti gerakan tanggan Sooyoung dan mencoba meraih lengan Sooyoung yang terbalut lengan kemeja rumah sakit. ” Sttttt, Sayang. Tenang…Aku akan meredakan rasa sakit ini. Ya. Bagus…” Siwon terus berucap sampai dia melihat sumber kesakitan Sooyoung. Di lengan wanita itu ada sebuah tato hitam berbentuk jalinan rumit dari sulur bunga krisan yang menjuntai pedang dengan tahta batu amber hitam. Sulur itu bersisik seperti ular dan lidahnya menyalah dengan warna darah. Ada tiga titik yang membentuk segitiga mengurung gambaran indah itu, tepat di tengan ada sebuah gambaran jam pasir dan berbayang harpa berdawai.

“Sa…kit…” Sooyoung menggumam lemah, sebelum kembali dalam tidurnya.

*************************

Seohyun, Sang Takdir sedang tersenyum muram di hadapan cermin yang mampu memperlihatkan segala yang terjadi di dunia. Wanita itu menggenggam gulungan benang emas yang digunakan untuk menjalin takdir. Dia meraih gunting perak yang diasah khusus oleh Sang Kehidupan dan menyimpannya ke dalam kotak berukiran rumit.

Dia tertawa lirih saat menyambung benang yang mulanya terputus tanpa kehendaknya. Dia menjalin lagi benang itu, namun memberinya tetesan tinta hitam untuk menandakan seorang manusia fana yang sudah dicap dengan tato waktunya. ” Sang Kematian, telah berbuat sesuka hatinya. Dan aku tak bisa membiarkannya. Saat jarum pasir berputar dan dawai dari harpa menghilang, sedangkan wanita itu tak mampu menemukan jawabannya, dia akan kembali pada sang kematian. Dan benang emas ini akan kembali terputus, sesuai takdirnya,” Kata Sang Takdir seolah merapal materanya. ” Tiga purnama, tiga musim dingin, dan serpihan debu. “

Seohyun berbalik sebelum kembali melihat wajah tenang dari wanita yang sudah ditandainya. Wajah yang terpantul dicermin itu terlihat begitu damai, seolah tak pernah ada kejadian menyedihkan yang menimpanya. ” Semoga kau berhasil. Sang kematian memberimu hadiah agar bisa melupakan segalanya, kau akan mendapat juga dariku. Satu dan sangat berarti. Kelebatan ingatan yang akan membawamu kepada takdirmu…..”

************************

-TBC-

Nah itu tadi Prolog yang sedikit, karena seharusnya Teaser, tapi kepanjangan, akhirnya disebut Prolog lol 😀 #author maksa.

Nah, apa sebenarnya yang terjadi dengan Sooyoung. Kenapa Kyuhyun mengatakan dia telah mengakhiri hidupnya di saat pernikahan dan kehidupan bahagia datang menghampirinya. Dan apa hubungan Yoona dan Siwon, kenapa dia takut Sooyoung terbangun. Dan apakah Sooyoung mampu menjawab tantangan sang dewi takdir yang tak senang sang kematian memberinya kesempatan kedua?

FF ini tak sesederhana kelihatanya, karena saya suka kekejaman dan kekerasan lol #author gila, antisipasi ya, saya rasa nanti ada adegan yang kurang menyenangkan 😀 , jadi maaf. Dannn apa Siwon dan Sooyoung akan bersama?

Karena sudah ada dua list FF Adaya yang akan segera tamat, Adaya akan mengganti dengan 2 FF baru, series, satunya adalah Asking For Problem Two Shoot yg dulu sudah saya Teaserkan dan OMTOMC ini 😀 ,

Minta Saran ya Readerrrr….

Gumawo .

8 thoughts on “[PROLOG] One More Time One More Chance

  1. Seperti biasa FF mu selalu berbobot…
    suka banget sama penggambaran detail kyuhyun yang berambut merah dengan mata merah yang berpusar.seta pakainnya yang terdiri dari jaring hitam dengan topi bulu rubah.
    Rasane mau aku bejek bejek Yoona disini … hahaha
    sebel sebel
    antisipasi reader! selanjutnya ada adegan menguras air mata dan kerutan dahi yang sangat didetailkan oleh adaya
    wakakaka #kaburrrrrrrrrr

  2. Sama seperti soo eonni, aku tidak mengerti dengan kata2 bijak kyu yang sarat akan makna.

    Tato? Kenapa bisa ada?
    Kyu memberi pilihan?
    Hoho, apakah kematian dan kehidupan ini saling bersaing?

    Kyu kau sudah tua ternyata. Hihi
    Aku suka sifat kyu disini..kkeke

    Dari awal aku curiga ama yonwon eon..
    Dari kata2 yoona yang selalu kasar dan gerak-gerik mereka.

    Aku penasaran, apa yang dilihat soo eonni sampai2 dia memutuskan untuk bunuh diri?

    Terus eon, seperti biasa. Diksi nya oke punya. Haha
    Oh iaa eon, ini masih prolog?
    Berarti part 1 nya lebih panjang lagi ya,,

    Terus eon, aku penasaran. Kira2 kyu-soo-seo bakalan terhubung lewat apa?
    Lewat mimpi atau tato itu?

    Anyway eon, itu tato nya aku penasaran kayak apa. Soalnya penggambarannya detail banget, tapi sayang otakku nggak mudeng. Hihi

    Next part ditunggu yah eon 😀

  3. msi bnyak misteri chingu..iyalah msi prolog yg d baca.
    Q suka pemilihan kata d ff ini,,jalan ceritanya jg kreatif.
    Klo saya bsa saran, jng terlalu bertele2 wkt menggambarkan kejadian chingu. Soalnya kdang bsa bkin yg baca kehilangan feelnya.
    Cm itu aja sie…
    Tp keseluruhan oke bgt! Sukaaaaaaaa
    Tp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s