[ FF ] Dare To Tempt a Duke – Chapter 3 –

Anyeong Anyeong Anyeong . Adaya and Nidya Back!  Adakah yang kangen Dengan DTTD? Gak ada ya ? Ya Udah.

68

Hhehehehhe. Mian lama updatenya karena kita jarang bisa online tiap hari barengan (well ini jelas bohong), aliasnya sih karena kita kepo, kehabisan ide, lol, dan lagi sibuk sama FF masing-masing. Tapi karena DTTD menang polling kita harus dong yang memenuhi keinginan para reader tercinta. Ok, gak usah banyak cap cus langsung saja ke FFnya, happy reading.

Untitled

Title     : Dare To Tempt a Duke

Author : Nidya (pulpen_ijo@yahoo.com) and Adaya Muminah Aljabar ( @AdayaOe09 )

Main Cast :

  • Choi Sooyoung  – > Lady Summer Westwood
  • Choi Siwon         –> Siwon Duke of Rutherford
  • Im Yoona            –> Lady Yoona Easterling
  • Cho Kyuhyun     –> Kyuhyun Viscount of Arestoone

Other Cast :

  • Victoria Song –> Lady Victoria Duchess of Claymore 
  • Nickhun            –> Nick Duke of Claymore 

Type               : Chapter

Genre             : Historical Romance

Rating           : PG-18 ( All reader who Open mind )

Disclaimer : This Story is Adapted from Historical Romance Novel by Lisa Klepas, Jilia Garwood, Judith McNaught, Julia Quinn, etc. 

Author POV-

“I want you any way I can get you. Not because you’re beautiful or clever or kind or adorable, although devil knows you’re all those things. I want you because there’s no one else like you, and I don’t ever want to start a day without seeing you.” 
— Lisa Kleypas

****************************

Hampshire 1857

Saat berusia sepuluh tahun, Lady Sooyoung Westwood menyadari satu hal yang merubah hidupnya untuk selamanya. Perubahan yang menghapus senyum polosnya. Sesuatu yang membuat hatinya mengeras dan dipenuhi oleh tinta hitam yang menggelapkan pandangannya pada dunia dan kebahagiaan.

” Mistress?” Sooyoung mengulang kata wanita montok di hadapanya dengan terbata. Dia merasa kebingungan saat wanita itu tertawa riang di dalam kamar ibu dan ayahnya. Wanita itu mengenakan pakaian tak pantas di balik mantel bulu yang dijahit oleh pengerajin dari Prancis. Gaunya tak bisa digolongkan dalam gaun yang mewah, tapi cukup elegan untuk membalut tubuhnya yang berlekuk. Korset wanita itu dilapisi dengan musilin lembut dan sulur bunga dari pita sutra bewarna merah menyala. Rambut hitamnya sekelam malam hingga Sooyoung hampir mengira warna rambut wanita itu biru saat cahaya mentari tak meneranginya. Wanita itu berdiri dengan satu tangan ditautkan pada tas kecil yang senada dengan warna topinya. Ada senyum di bibir tebalnya. Senyum kaku yang mengirim getaran dingin ke perut Sooyoung.

 ” Ya, Nak. Kau tak tahu apa itu?” kata wanita itu sambil merundukkan badannya sejajar dengan Sooyoung.

Sooyoung merespon gerakan mengancam itu dengan mundur selangkah ke belakang, sebelum menyadari dia ada di ujung tangga. Sooyoung mengerut tidak senang saat wanita itu berkacak pinggang seolah dia nyonya rumah di rumah Sooyoung. Dengan kebencian yang terlukis di wajahnya Sooyoung mencengkram erat mainan kayu yang dibuatnya untuk menyambut kedatangan ayahnya.

” Apa itu?” tanya Sooyoung tepat saat dia mendengar pintu ruang kerja ayahnya terbuka. Sooyoung memandang dari balik tubuh wanita di hadapannya dan mendapati ibunya melangkah melewati pintu mahoni itu dengan wajah tertekuk muram. “Mama?,” bisik Sooyoung perlahan. Ibunya memandang Sooyoung dengan sirat kebencian di mata birunya. ” Kenapa kau menangis?”

Ibu Sooyoung mendelik sebentar pada Sooyoung sebelum berlalu tanpa menjawab pertanyaan Sooyoung. Lain dengan Ibunya yang enggan menjawab pertanyaannya, wanita yang mengaku dirinya bernama Minerva itu terkekeh pelan dan menepuk kepala Sooyoung dengan sapuan halus sebelum memanggil lirih nama gadis kecil yang berdiri agak jauh darinya. Anak itu berambut coklat kemerahan sama seperti Sooyoung, matanya sebulat mata Sooyoung dengan bulu mata lentik yang memahkotai garis lengkung matanya. Bedanya, gadis itu memiliki semburat bintik-bintik hitam di sekitar hidungnya. ” Stefanny, kenalkan dia kakakmu.”

Sooyoung terhenyak saat melihat gadis cilik bernama Stefanny itu menuju ke arahnya dengan sikap malu-malu. Dia membungkuk dengan sopan dan memanggil Sooyoung dengan sebutan kakak perlahan. Sooyoung kembali menoleh ke arah wanita itu dan bergumam tak mengerti. ” Mulai saat ini Fanny adalah adikmu, dan dia akan tinggal di sini bersamamu. “

” Tapi aku tak punya adik!” bentak Sooyoung dengan suara melengking.

” Kau punya, Gadis kecil. Kau melihat buktinya di hadapanmu. Bukankah dia seperti pinang di belah dua denganmu.”

” Tapi Mama tidak punya anak selain aku.”

 “Tentu! Ibumu yang dingin itu tak mungkin lagi menarik minat ayahmu ke tempat tidurnya. Wanita seperti akulah yang mampu membuatnya tertarik untuk melampiaskan gairah yang tersimpan karena istri yang tak becus seperti Ibumu. Aku mampu memberikan segalanya, kepuasan, dan kehangatan yang tak diperoleh ayahmu dari Ibumu yang sedingin es itu.”

” Kau mungkin tak mengerti, Nak. Tapi aku akan memperingatkanmu untuk bersikap baik dikemudian hari. Atau aku akan menyingkirkanmu dan ibumu ke neraka.”

“Kau tak mungkin melakukannya, ini rumahku, dan dia bukan adikku.”

“Ini rumahku juga mulai saat ini. Mulai sekarang, kau harus membiasakan diri memanggilnya ‘sister’ karena dia memang adikmu. Atau aku akan menyuruh ayahmu untuk membuangmu ke desa. “

” Kau jahat.”

” Ini bukan jahat , Nak. Hanya insting bertahan. “

Sooyoung berkaca-kaca saat ayahnya keluar dari tempat kerjanya. Dia ingin menghambur ke pelukan lelaki itu dan mencoba menepis semua kebohongan yang dikatakan Minerva. Tapi Sooyoung membeku di tempatnya saat ayahnya menghampiri Fanny dengan wajah gembira. Ayahnya membisikkan sesuatu ke telinga Fanny yang membuat gadis itu tertawa lucu sebelum merengkuhnya dalam buaian tangan kokohnya. Dia mengecup pipi Fanny dengan kasih dan mengelus rambut coklatnya perlahan.

Sooyoung memandang pemandangan indah di depannya. Mata ayahnya besinar dengan kebahagiaan saat menyambut Minerva dalam dekapannya, Sooyoung menggigit bibirnya lirih dan menyembunyikan hiasan dari kayu yang dibuat untuk ayahnya. Dia tak pernah merasa diperlakukan sebaik itu oleh ayah dan ibunya. Dia juga ingin bersandar di tangan ayahnya, digendong dalam buaiananya, dan diangkat ke atas bahunya untuk melihat pemandang dari atas bahu ayahnya. Sooyoung mengkerut iri pada gadis asing yang tiba-tiba datang mengambil tempat yang tak pernah dimilikinya.

Seumur hidup, ayah Sooyoung memperlakukannya dengan dingin dan menjaga jarak, dia akan marah saat Sooyoung berbuat kesalahan, dia tak akan segan memukul dan menampar Sooyoung jika perlu. Walau terasa perih di kulit dan hatinya, jiwa polos di hati Sooyoung meyakini itulah cara orangtua memperlakukan anaknya. Dia merasa iri saat Dorris memperlakukan anaknya dengan lembut, sedangka ibunya selalu menjauhkan diri darinya. Ibunya selalu bertatap muka denganya disetiap kesempatan, tapi hanya perasaan dingin dan acuh yang diberikan wanita itu pada Sooyoung.

” Papa…” Bisik Sooyoung perlahan. ” Wanita itu bilang gadis itu adikku. Itu tidak benar bukan?”

Wajah lelaki itu mengeras saat memandang sosok Sooyoung berdiri di ujung tangga. “Dia memang adikmu. Mulai saat ini kau akan berbagi segalanya dengannya. Kamar, pakaian, dan mainan.”

Sooyoung tergagap sesaat sampai pemandangan gadis itu merangkulkan lengan kecilnya ke leher ayahnya, menghancurkan hatinya. Dia juga ingin seperti gadis itu, bergelayut manja pada ayahnya, menyandarkan kepala mungilnya di dada ayahnya. Sesuatu yang tak akan pernah bisa dia lakukan. Sooyoung terisak pelan. Dia mungkin akan membagi segalanya, tapi dia tak akan pernah bisa merasakan apa yang dimiliki Fanny.

Sooyoung tertunduk dan melawan dalam hati. Kepedihannya bercampur dengan rasa iri dan kedengkian yang menyulut amarahnya. ” Dia Papaku… dia ayahku….” Bisik Sooyoung perlahan, seraya menghujamkan tatapan tak senang ke arah Fanny. Sooyoung menjerit dengan keras dan menerjang ke arah Fanny yang ada di buaian ayahnya. ” Dia ayahku, lepaskan lenganmu dari dia. Aku tak mau membagi apapun denganmu.” Amuk Sooyoung seraya menarik-narik kaki Fanny dengan keras. Fanny menjerit ketakutan saat kuku Sooyoung mencakar kulit di balik gaunnya. Dengan sentakan keras karena bergelut melawan kekuatan ayahnya Sooyoung berhasil menjatuhkan Fanny dari buaian ayahnya. Gadis kecil itu menangis dengan keras dan memanggil- manggil ibunya.

Sooyoung terengah di tempatnya dan memandang sedikit puas ke arah gadis yang menangis itu. Minerva mendelik kesal padanya saat lutut Fanny membiru. Sooyoung mengkerut takut saat mendengar geraman marah ayahnya. Senyum kepuasan di bibirnya hilang seketika. Ayahnya berdiri menjulang di hadapan Sooyoung dan mengayunkan punggung tanganya dengan keras ke arah kepala Sooyoung. Gadis itu tersentak jatuh dengan keras. Pipinya memerah, ada sedikit darah yang keluar dari bibirnya. Tapi tatapanya sama sekali tak menunjukkan rasa sakit, tapi sebuah kengerian saat melihat mainan kayu buatanya turut hancur saat dia tersungkur di lantai.

Sooyoung menjulurkan tangannya, mencoba meraih serpihan mainan kayu itu, tapi Minerva menginjak tangan Sooyoung dengan keras. Gadis itu menjerit tertahan. “Tidak…Tidak…” Sooyoung  tertegun sesaat lalu menangis, dia mengumpulakn kayu-kayu yang berserakan di lantai. Tapi ayahnya meraihnya dan membuangnya ke dasar tangga. Sooyoung menggeleng kuat dan melaju menuruni tangga. Sooyoung melihat ke atas saat ibunya tiba-tiba muncul di balik tubuh besar ayahnya. Wanita itu terkejut  saat melihat darah di bibir Sooyoung tapi kemudian kembali ke ekspresi dinginya.

” Lain kali didik anakmu lebih baik. Dia butuh pelajaran disiplin dan tatakrama.” Bentak ayah Sooyoung pada ibunya.

Ibu Sooyoung mencengkram buku-buku tanganya dan menuruni tangga ke arah Sooyoung, dia meraih garis leher gaun Sooyoung dan memaksanya untuk mengikutinya keluar. Ibunya mendelik marah padanya. Sooyoung ragu dia harus senang atau sedih karena ini kali pertama ibunya menunjukkan emosi pada dirinya. Walaupun itu emosi kemarahan, dia merasa lebih baik dibanding dengan ketidakpedulian. Setidaknya dia berfikir begitu sebelum ibunya mengambil cambuk yang digunakan untuk menghukum budak yang ketahuan kabur. ” Kau menyusahkan. Kau tahu, melahirkanmu adalah kesalahan. Seharusnya kau lelaki.” Geram ibunya penuh rasa frustasi. ” Aku menyesal mengandungmu dan repot-repot kesakitan saat itu. Kalau kau lelaki semua ini tak perlu terjadi.”

Sooyoung tercengang saat ibunya menyerahkan cambuk itu ke salah satu pengurus istal. ” Cambuk dia, hingga dia tahu bagaimana bersikap baik.” Kata ibunya sebelum berlalu.

Sooyoung memandang takut ke arah cambuk besar itu lalu ke arah Eric, pengurus kudanya. Lelaki itu memandangnya dengan iba ke arah Sooyoung yang terihat rapuh. ” Maafkan aku, My Lady, ini perintah. ” Ujarnya sebelum menutup matanya untuk melecut tubuh Sooyoung.

Sooyoung menjerit dan menjerit. Dia menangis. Tapi itu adalah awal dari segalanya. Dia mengerti saat ini, detik itu. Bahwa dunia tak seindah yang dipikirkannya. Dia menangis sejadi-jadinya, dia bersumpah dalam hati, bahwa itu adalah tangisannya yang terakhir. Tak akan ada lagi mainan kayu untuk ayahnya. Tak akan ada lagi gadis penurut. Tak akan ada lagi harapan palsu untuk dicintai. Sooyoung Westwood, gadis kecil yang penuh harapan telah mati saat itu juga bersama rasa perih di hatinya.

*****************************

Edensor , Derbshire 1867

Donington Manor , House of Rutherford

Sooyoung merasakan hembusan panas Siwon di pipinya. Mereka bertatapan, lalu Siwon mengecup pelan bibir Sooyoung yang membengkak, mengecup sekali lagi, dan melumat total meminta kepasrahan dari Sooyoung.

Tangan Siwon mulai menjalar, menelusuri lekuk leher Sooyoung yang terbuka, terus hingga ke belahan dadanya yang membengkak. Tangan kirinya meremas pelan pinggang Sooyoung yang ramping. Dia mencium bibir Sooyoung dengan ganas, merasa panas di dalam tubuhnya seperti api yang menjalar. Nikmat. Dan lembut. Dia mengangkat Sooyoung sambil masih melumat bibirnya, membawanya menuju bangku taman yang tidak terlihat dari dalam. Napas mereka beradu membentuk uap. Siwon membaringkan Sooyoung di bangku taman yang dingin itu.

Sooyoung terkesiap pelan saat merasakan bangku dingin menyentuh kulit punggungnya yang telanjang. Dia sama sekali tidak menyangka dirinya bisa terpengaruh seperti ini. Tenggelam dalam rayuan Siwon yang sopan ini.

Dan sejak kapan Siwon mengambil alih ciuman mereka?

Sooyoung mendesah pelan, tangannya menapak di dada Siwon yang kekar, dia mencoba membuka kancing kemeja Siwon, merintih puas saat merasakan kehalusan, kelembutan, dan kekerasan perutnya. Saat tangan Siwon dengan ahli melepaskan tali dari korsetnya hingga melonggar dan jatuh di pinggangnya, Sooyoung tahu dia sudah kalah.

********************

Kyuhyun mendesah dalam hati, bertekad membuat senyuman ceria dan sopan saat berhadapan dengan percakapan Lady Cannon yang membosankan.

“Jadi, My Lord, apa kau mempunyai pendapat yang sama dengan kuda jantan suamiku?” Lady Cannon melahap potongan besar steak daging sapi dalam sekali makan.

Kyuhyun mengerutkan kening sejenak dan langsung menetralkan ekspresi wajahnya. Tidak heran tubuhnya sebesar kerbau. “Aku benar-benar tekesan dengan kuda jantan dari Lord Cannon. Kuda itu liar dan merupakan keturunan dari kuda ras murni,” Kyuhyun menghirup singkat wine-nya lalu melanjutkan. “Hanya saja saya belum tertarik untuk berjudi.” Kyuhyun memerkan senyum mempesona.

Lady Cannon berdehem singkat. Matanya mengerling genit kepada Kyuhyun. “Kalau boleh jujur, aku juga tidak akan tertarik pada kuda jantan itu kalau disini ada kuda jantan yang tidak kalah menakjubkan.” Bisik Lady Cannon.

Kyuhyun menahan diri untuk tidak mendengus keras. Dia memberikan senyum sopannya dan mengabaikan undangan terselubung Lady Cannon.

Kuda, demi Tuhan.

Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang perjamuan makan yang penuh dengan berbagai macam bangsawan itu. Dia mengenali dan telah sering bertemu semua orang yang ada disitu. Yah, tidak semuanya. Dia hanya menatap orang yang dirasanya menarik. Berpikir sejenak dua tempat kosong yang seharusnya diduduki Sooyoung dan Siwon, pikiran nakal terlintas di benaknya membuatnya hampir tertawa yang langsung ditahannya.

Perhatiannya tertuju pada Lady Yoona yang sopan dan lembut. Wajahnya terlihat pucat dan sesak dalam cahaya temaram lilin.

Yoona mengucapkan penyesalannya  untuk undur diri mencari udara segar. Dia berjalan dengan kepalanya yang pening, berusaha mencari secercah udara dan memasukkannya ke paru-parunya yang direngkuh korset ketatnya.

Yoona tak terlalu memperhatikan langkahnya sampai dia merasa membentur dada keras seseorang. Sedetik lalu Yoona merasa dirinya akan terjungkal membentur lantai tapi kedua tangan kuat yang mencengkram kedua lengannya mencegahnya terjatuh. Yoona mendongak dan terperangah sejenak.

“Kau baik-baik saja, My Lady ?” Kyuhyun menegakkan sejenak Yoona dan dengan cepat meletakkan tangan Yoona yang terbalut sarung tangan untuk melingkar di lengannya, tidak memberi kesempatan Yoona untuk memprotes. “Aku akan menemanimu menghilang dari kebosanan yang berkelanjutan ini. Kebetulan aku sudah sangat tidak bisa menoleransi kebosanan akut yang melanda saraf lemahku.” Lanjut Kyuhyun dengan nada jailnya sambil menuntun Yoona melintasi ruangan.

Yoona tersenyum geli melihat tingkah laku pria di sampingnya. Jenis pria yang langka ditemui di kalangan ton, keceriaan diantara kekakuan masyarakat London. “Kulihat anda cukup menikmati percakapan dengan Lady Cannon.” Ujar Yoona tidak mampu menahan godaan untuk memulai percakapan.

Kyuhyun tersenyum dengan senyuman yang berbeda dari senyuman yang biasa dia pasang di wajahnya. Mereka berjalan menuju pintu kaca yang terbuka lebar. Ada beberapa Lord dan Lady yang bercakap-cakap di teras, melepas kebosanan yang terpatri di dalam ruangan.

“Ada berbagai macam jenis senyuman My Lady, dan kuyakinkan kalau jenis senyuman yang kuberikan pada Lady Cannon itu lebih seperti ‘Tuhan, tolong aku’,” bisik Kyuhyun lirih mengundang tawa lirih dari Yoona. Tawa lirih yang membuat bulu kuduknya meremang. “Dan aku langsung menyambut pertolongannya saat kau memutuskan untuk keluar.” Lanjut Kyuhyun dengan ceria.

Yoona menggelengkan kepalanya, “Anda benar-benar seseorang yang menarik, My Lord,” ucap Yoona. “Kuduga kau tetap akan melanjutkan pembicaraanmu dengan Lady Cannon bila aku tidak memutuskan untuk keluar?”

Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Kalau begitu aku akan terpaksa mencari alasan lain,” Kyuhyun menatap Yoona. “Mungkin dengan memberi isyarat kedipan mata padamu hingga kau memutuskan untuk keluar karena gangguanku.” Jawab Kyuhyun usil.

Mereka sampai di jalan kecil yang mengarah ke ruang kaca. Malam itu begitu dingin. Menakjubkan sekali bagaimana panasnya udara di dalam ruangan saat udara di luar begitu sejuk. Kyuhyun merasakan Yoona yang menggigil. Dia melepas jas tebalnya dan melingkupkannya pada pundak Yoona ramping Yoona.

“Terima kasih.” Gumam Yoona pelan sambil mengeratkan jas itu ditubuhnya. Kyuhyun tersenyum melihat reaksi Yoona yang polos.

Kyuhyun mengerutkan dahi saat mendengar suara-suara lirih. Gumaman, desahan sensual. Sesuatu yang sangat akrab di telinganya. Kyuhyun menyapu pandangan di sekitarnya, tepat di ujung ruangan kaca, Kyuhyun menangkap pemandangan yang membuatnya kaku.

Kyuhyun menuntun Yoona ke arah sumber suara itu. “Aku rasa seharusnya kita kembali.” Bisik Yoona sambil mencengkram lengan Kyuhyun.

“Akan lebih seru kalau kita mengetahui siapa mereka.” Jawab Kyuhyun sambil berbisik.

Mereka melangkah dan berjalan dengan hati-hati, bertekad tidak mengeluarkan suara yang dapat menyebabkan aktivitas itu berhenti.

Kyuhyun bisa melihat seorang perempuan yang ditimpa oleh tubuh lelaki berotot. Pakaian mereka sudah berantakan menandakan mereka sudah lama berada disitu. Lelaki itu mencium dengan penuh hasrat sambil meremas pelan dada telanjang si perempuan. Kyuhyun membeku saat menyadari identitas kedua orang di depannya yang saling bergumul. Dia bisa mendengar Yoona yang memekik pelan.

Kyuhyun berdehem. Membuat Siwon dan Sooyoung menghentikan ciuman mereka. “Oke aku bisa buta, Soo. Aku tak berharap menangkap basah dua pemeran utama dalam drama perang Troya bercumbu dan setengah telanjang…,” Kyuhyun mengedarkan pandangannya dengan sinis. “Di kebun yang gelap dan dingin.” Dia terkekeh geli melihat Sooyoung yang langsung mendorong Siwon dan mencoba menyembunyikan dada telanjangnya.

Yoona memandang pucat ke arah Siwon yang bergerak-gerak gelisah, mencoba mengancingkan kembali kemejanya yang terbuka lebar. Siwon mendesah saat menyadari beberapa kancing di kemejanya terlepas dari tempatnya.

“Orang bilang bercumbu dengan musuh, selalu lebih nikmat. Itukah yang membawamu berbaring setengah telanjang disini bersama Lord kesayanganmu?” ejek Kyuhyun seraya meringis geli.

“Jaga mulutmu Arestoone!” geram Sooyoung saat dia sudah bisa menguasai getaran hasrat yang menjalar di tulang punggungnya.

“Maafkan kelancangan orang tak beradab seperti kami My Lady.” Ujar Kyuhyun mengalihkan perhatiannya pada Yoona yang memucat di sampingnya. “ Kami tak didik dengan benar. Kau harus maklum, terkadang godaan untuk mencium musuhmu sungguh tak tertahankan.”

“Kyuhyun!” geram Sooyoung dengan nada mengancam.

Kyuhyun meringis pelan dan melirik Siwon yang membeku di samping Sooyoung. “Well, aku akan mengamankan Lady Yoona yang masih sangat murni ini. Aku takut mencemarinya dengan opera tak senonoh yang kalian mainkan. Lain kali aku sarankan kau memilih tempat yang tak biasa disinggahi orang. “ Kyuhyun tersenyum geli saat melihat wajah Siwon muram. Lord penuh tatakrama seperti dia pasti akan merasa ucapan Kyuhyun sebagai tikaman di jantungnya, tapi Kyuhyun tak ingin berhenti sampai di situ. “Ah! Atau kalian tipe pasangan eksebisionis? Aku maklum jika itu adanya.” Tambah Kyuhyun sebelum terbahak saat mendengar umpatan Sooyoung.

Kyuhyun berbalik membawa Yoona meninggalkan pasangan paling aneh yang pernah ditemuinya seumur hidup itu sendirian. “ Maafkan kami, My Lady. “ Ujar Kyuhyun tak tulus.

 ******************************

Sepeninggalan Kyuhyun dan Yoona, Sooyoung terpaku diam di samping Siwon yang membatu. Ada aura canggung yang sontak memisahkan desah sensual yang masih menggantung di udara semenit yang lalu.

Segalanya benar-benar berakhir. Sooyoung mendesah lemah saat mencoba membenahi gaunnya yang terkoyak tanpa minat. Dia tak ingin hanya diam disini menunggu Siwon berbicara sepatah kata. Sooyoung ingin memulai pembicaraan saat suara berat dan parau itu membelah kesunyian diantara mereka.

“ Ini sebuah kesalahan.” Bisik Siwon disela bibirnya yang terkatup rapat. Mata lelaki itu tajam memandang tepat ke mata Sooyoung. Berbeda dengan menit- menit sebelumnya, kali ini tatapan dingin menusuk itu kembali menghujam jantung Sooyoung dengan keras.

Sooyoung mengernyit kaku saat mendengar ucapan Siwon. Tubuhnya kaku dan ada aura dingin merambati perutnya. “ Kesalahan?” ulang Sooyoung dengan nada bergetar, campuran marah dan terkejut.

“ Ya. Jelas sebuah kesalahan besar.”

Sooyoung memandang tak percaya pada laki-laki di hadapannya. Dia merasa muak dan mual. Kemarahannya ada di ujung lidahnya, seolah siap membunuh lelaki itu dengan umpatan dan hinaan. Tapi dia menahannya, tak ada untungnya bagi Sooyoung menunjukkan emosinya saat ini. Siwon sudah pernah menghinanya beberapa malam yang lalu. Menciumnya penuh godaan dan meninggalkannya menggantung dalam hasrat yang tak terpuaskan. Dan malam ini seharusnya saat Sooyoung mampu menjauhkan Siwon dari bibirnya, seharusnya dia meninju wajah bajingan itu dengan bogem mentahnya. Keras. Sangat keras. Hingga mematahkan hidungnya.

“ Aku pastikan hal seperti ini tak akan terulang lagi diantara kita.” Ujar Siwon dengan nada yang lebih pada meyakinkan dirinya sendiri.

Sooyoung mengutuk pada dirinya sekali lagi. Menyesali kebodohannya karena berhasil terjatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. “ Kau tak perlu terlihat begitu menyesal, Rutherford.” Ujar Sooyoung dengan kepahitan dalam suaranya.

“Aku yakin di masa yang akan datang aku akan mampu mengendalikan diriku. Kau tak perlu khawatir akan hal itu. Wanita sepertimu…”

“Sepertiku?” sahut Sooyoung kesal. “ Seperti apa tepatnya?”

Sooyoung mendengus marah karena merasa terhina dengan ucapan Siwon yang tak disengaja. “ Kalian sama saja. Kau tahu? Semua lelaki sama saja. Terutama jenis sepertimu,” Sooyoung menarik nafasnya perlahan, mencoba untuk tidak mengikuti emosi yang bergolak di hatinya. Dia harus tetap tenang dan menampilkan sikap acuh seperti biasanya. Dia tak boleh kehilangan kendali akan dirinya. Tidak. Terutama di depan lelaki sombong di hadapannya. “ Bersembunyi di balik topeng tatakrama yang memuakkan. Berpura-pura bersikap penuh moral. Dan menghina orang lain yang tak cukup tahu cara memegang sendok sup dengan benar. Aku benar-benar merasa jijik dengan bangsawan munafik seperti kalian.” Sooyoung berbalik, tak cukup yakin dia mampu menahan amarahnya jika dia tetap di situ.

“Tunggu.” Siwon meraih tangan Sooyoung pelan. Mencoba menahan langkah Sooyoung dan membalikkan wanita itu menghadap dirinya. “ Apa maksudmu?”

“ Cih. Aku bertanya-tanya dalam hati, kau bodoh atau hanya bersikap sopan dengan menanyakan pertanyaan retoris macam itu?”, Sooyoung menyentakkan tangan Siwon dengan kasar. “ Jika kau tak cukup mengerti, mungkin kau bisa mencarinya dalam buku etiket yang selalu dibaca oleh kaummu. Kaum orang penuh moral dan menganggap tertawa dari hati adalah dosa.” Ejek Sooyoung sebelum meninggalkan Siwon dalam kebingungan.

******************************

Yoona menghirup udara pagi yang masih berembun. Tangannya melebar dengan penuh kekaguman. Inggris. Benar-benar segar di pagi hari.

Dia berjalan dengan langkah ringan menyusuri jalanan berbatu di padang rumput beberapa kilometer dari rumah utama. Dia tersenyum ceria mengingat calon suami yang dipaksakan ibunya sudah gugur. Lord Siwon – gugur.

Benar-benar tak terduga saat dia menangkap basah Lady Sooyoung dan Lord Siwon yang sedang melakukan perbuatan terlarang. Dia tak menyangka mereka yang biasanya beradu mulut melalui kata-kata pedas ternyata malah beradu mulut secara nyata. Hanya saja, Yoona benar-benar penasaran. Perbuatan yang mereka lakukan kemarin malam, kegiatan yang bisa mengeluarkan suara erotis puas semacam itu, membuatnya ingin tahu rasanya.

Lord Kyuhyun yang berdiri di sampingnya juga tidak membantu, pikirnya muram. Setelah kejadian itu, dia langsung diantar tepat menuju depan kamarnya. Dengan sopan dan ramah seperti biasa, tapi suasana cair yang mereka rasakan sebelumnya sudah menghilang, diganti dengan kekakuan khas bangsawan.

Yoona menghela napas pelan. Rentetan suara burung bergema di pohon-pohon berusia ratusan tahun yang menjulang tinggi. Sinar matahari mengedarkan sinarnya dengan samar namun hangat. Yoona menangkap basah rubah yang keluar dari lubang sarangnya dan kabur saat menyadari Yoona melihat kelinci itu.

Yoona tersenyum kecil. Dia mendengar kecipak suara air. Danau, pikirnya. Apa ada orang yang mandi di danau di udara yang nyaris membekukan pembulu darah ini ? Kecipak suara itu terdengar lagi, kali ini dengan suara desiran air teratur. Yoona berjalan mengendap-ngendap dan mengintip sedikit. Dia menghela napas lega saat melihat tidak ada orang yang berenang.

Tiba-tiba muncul rambut hitam yang melayang di permukaan danau. Timbul tenggelam bersama gerakan desiran tangan di air. Yoona terpaku. Lelaki yang sedang berenang itu menyeberangi pinggir danau, dan berhenti.

Kyuhyun mengangkat tubuhnya ke permukaan tanah dengan kedua tangannya, membuat otot-otot di lengannya menegang. Dia mengusap dan mengibas pelan rambut hitamnya. Dia berlama-lama menggosok lengan dan punggungnya dengan handuk yang dia bawa. Kyuhyun menyadari ada seseorang yang melihatnya. Dia melirik pelan, berusaha untuk menjaga ekspresinya tetap tenang dan tanpa curiga. Dia melihat samar-samar rambut merah yang berada di balik bayang-bayang pohon.

Rambut merah. Yoona. Kyuhyun meringis geli. Pikiran jahilnya mulai beraksi. Dia mengusap pelan leher dan lengannya dengan handuk, mempertontonkan tubuh bagian belakangnya tanpa ada yang lapisan penutup. Kyuhyun bisa mendengar suara terkesiap pelan. Dia tersenyum kecil, lalu berbalik mempertontonkan tubuh bagian depannya.

Ya tuhan! . Jerit Yoona keras dipikirannya.

Yoona terpaku saat melihat lekuk belakang tubuh Kyuhyun yang ramping. Dia benar-benar terkejut saat Kyuhyun membalikkan badannya. Daging dan otot yang keras berpadu menjadi satu kesatuan. Astaga! Astaga!. Batin Yoona panik. Baru kali ini ia melihat tubuh telanjang seorang pria muda.

“Siapa disitu ?” suara Kyuhyun terdengar membahana, membuat Yoona mundur ke belakang.

Dia mundur dua langkah dan berbalik dengan cepat. Tidak menyangka sama sekali daun yang berbaring tenang di tanah itu ternyata menutupi tanah liat di bawahnya. Yoona terpeleset dan berteriak dengan keras. Hujan deras di tengah malam membuat seluruh permukaan tanah menjadi basah, dan lembek. Yoona jatuh berdebum. Tatanan rambut merahnya yang biasanya ditata dengan rapi tanpa ada helai yang lepas sekarang rusak. Helai-helai rambut merahnya membuat tirai di hidungnya yang tercoreng lumpur. Yoona diam dalam posisi dimana dia jatuh. Tidak mampu bergerak. Shock.

Suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Dia melihat juluran tangan dan senyum jahil yang selalu terpasang di wajah lelaki itu. Senyuman kali ini berhasil menampakkan giginya yang putih.

“Maafkan aku. Aku tidak menyangka efek kejahilanku adalah sesuatu seperti ini.” Kyuhyun menghirup napasnya dengan penuh penyesalan. “Aku tidak menyangka kau akan panik saat melihat tubuhku.” Lanjut Kyuhyun. Dia berdiri di hadapan Yoona dengan celana panjang dan kemeja putih tipis yang dipakainya dengan tergesa-gesa.

Yoona merasa wajahnya memerah. “Aku…Aku…Aku tidak mengintipmu!” jawab Yoona dengan tergagap.

Well, baiklah kalau kau menyebut melihat seseorang saat sedang mandi itu bukan mengintip,” Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Bagaimanapun Lady akan selalu menang dalam perdebatan.” Lanjut Kyuhyun dengan kepasrahan yang terlihat jelas hanya topeng.

“Lagipula apa yang kau lakukan? Mandi di danau umum pada cuaca sedingin es!” balas Yoona sambil berusaha menenangkan debar jantungnya yang menggila.

Kyuhyun terkekeh pelan. “Lelaki sehat manapun pasti akan melakukan hal ini ketika malamnya dia melihat adegan panas bersama seorang perempuan di sampingnya. Dan lelaki itu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga tangannya agar tidak menggerayangi perempuan itu seperti adegan yang dilihatnya…”

Yoona memekik pelan, memotong ucapan Kyuhyun. Dia berdiri dengan mengabaikan uluran tangan Kyuhyun.

Kyuhyun melirik sekilas tangannya dan meringis. “Jangan kekanakan, Yoona.”

“Aku tidak kekanakan! Dan kau, My Lord, telah memanggilku dengan sebutan tidak sopan!” tandas Yoona, dengan sia-sia membuang lumpur yang mulai mengering di gaunnya.

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. “Haruskah aku harus menyebutkan gelarmu setiap kali aku memanggilmu seperti ratu? Your Highness?” kata Kyuhyun. Yoona memandangnya dengan sengit.

Kyuhyun mengulurkan tangannya, menyapu lumpur kering yang menempel di hidung dan pipi Yoona. Yoona berdiri kaku saat merasakan tangan Kyuhyun yang menjelajahi wajahnya.

“Kau… Apa kau kau sudah pernah dicium ?” kata Kyuhyun pelan. Pandangannya masih terfokus pada gerakan jemarinya yang mengusap goresan lumpur.

Yoona mengangguk lemah. “Tentu saja.” Bisiknya lirih. Tatapan mereka bertemu.

Kyuhyun menyeringai pelan masih menatap mata Yoona, “Kuduga tidak akan sehebat ciumanku.”

“Aku…” Kyuhyun menarik cepat dan menyatukan bibir mereka. Ia menggigit pelan bibir bawah Yoona dan menjilat giginya. Saat Yoona mengeluarkan suara erangan lembut, lidah Kyuhyun langsung menyusup pelan. Yoona mencengkram pelan kelepak kemeja Kyuhyun di depan, menarik Kyuhyun lebih dekat. Tubuh mereka saling menempel. Kedua tangan Kyuhyun masih memenjara pipi Yoona.

Lidah dan bibir mereka saling bertautan. Panas. Lembut. Dingin.

“Lihat… kau gemetar..” Bisik Kyuhyun lirih, memagut ujung bibir Yoona yang memejamkan matanya. Kyuhyun mengarahkan ciumannya kembali, menelusupkan lidahnya. Mereka masih terus berciuman, memagut, menyerang satu sama lain.

Kyuhyun menarik pelan kepala Yoona dan mendaratkan kecupan ringan di pipi Yoona yang memerah semerah rambutnya. “Bagaimana ?” kata Kyuhyun dengan suara serak.

Yoona tersentak pelan. Secara refleks ia mendorong dada Kyuhyun dengan keras menyebabkan Kyuhyun tersentak ke belakang.

“Aku.. aku…” Yoona memandang Kyuhyun dengan ekspresi bingung, lalu lari meninggalkan Kyuhyun sendirian.

******************************

Sooyoung sedang tak memiliki minat untuk bangun dan menembus cahaya mentari yang perlahan masuk ke dalam celah-celah jendela kamarnya. Dia sudah bilang pada Dorris pada malam sebelumnya bahwa dia ingin memiliki istirahat ekstra tanpa gangguan. Dan itu artinya dia akan melewatkan makan paginya bersama tamu yang lain.

Kejadian semalam masih menyisakan amarah di hati Sooyoung, dia ingin menenangkan jiwanya sebelum kembali bertatapan dengan Siwon di rumahnya. Dia kehilangan topeng kesinisan yang selama ini melindungi jiwa yang tersembunyi dibalik senyum menggodanya.

Sooyoung menghela nafas dan tak bisa memungkiri dia butuh bergerak. Dia bukan tipe wanita penyendiri yang akan tahan terkurung di kamar. Tapi helaian daun yang gugur dari ranting pohon yang menggantung di balkon kamarnya terlihat sangat menarik baginya. Pikirannya melayang kembali di masa dia bisa tertawa ceria, tawa tulus dari hati. Masa saat dia menari dan meneriakkan cinta pada dunia. Saat itu dunia terlihat tak begitu kejam, dan Sooyoung masih telalu kecil untuk mengerti sistem yang dianut oleh para ton.

Sooyoung selalu merasa ada yang salah dengan Ibunya. Dia bukan wanita ceria yang suka bicara, dia terlihat seperti patung es hidup dengan wajah cantik tak tercela. Mata biru yang menawan dan rambut kuning jagung khas kecantikan klasik Inggris. Sooyoung lebih mirip dengan ayahnya, berambut coklat kemerahan dan mata bening coklat yang berpendar hampir seperti emas yang mencair. Dan itu membuat Sooyoung muak pada dirinya. Karena dia dikutuk dengan wajah yang sangat dibencinya.

Sooyoung selalu bisa melihat dalam cermin, wajah ayahnya yang meringis saat dia menyiksanya. Wajah ayahnya yang terpuaskan oleh pelayan murahan yang ditidurinya di manapun dia bisa. Lelaki itu membuat Sooyoung merasa muak dengan kehidupan, dia jijik melihatnya, dan dia menemukan jiwa ayahnya tak hanya dimiliki oleh lelaki tua itu sendiri. Hampir semua masyarakat ton Inggris menganut sistem kehidupan yang sama. Meniduri semua wanita yang bisa dia beli, menyambar wanita janda maupun yang masih bersuami, mendesah dibalik ceruk atau perpustakaan, mengecap wanita yang bukan miliknya, disaat mereka sudah mengikrarkan janji mereka di depan Tuhan. Yang paling memuakkan, masyarakat itu membuat tata aturan yang mencerminkan seolah mereka masyarakat beradap yang mengenal tata norma dan agama. Kaum munafik yang bersembunyi dibalik kemegahan gelarnya.

Sooyoung ingin tertawa getir saat merasakan Siwon tak ada bedanya dengan mereka semua. Dengan ayah yang sangat dibencinya. Sooyoung masih belum mampu memaafkan kebodohannya karena mau membalas ciuman Siwon dua kali. Demi Tuhan, seandainya Kyuhyun tak datang menyela mereka, dia dan Siwon pasti sudah menyatu. Penyatuan yang pasti akan disesali Sooyoung.

Suara ketukan pelan dari pintu kamarnya membuat Sooyoung bergerak malas di bawah selimutnya, dia berbalik hanya untuk melihat Kyuhyun berdiri di pintunya dengan cengiran lebar yang menyembunyikan kepribadian kelam di balik wajahnya. ” Bersantai, huh? Seharian ini aku tak melihatmu turun. Apa ciuman Siwon mampu menguras habis semangat dan tenagamu, hingga kau tak mampu berdiri untuk menunjukkan taringmu.” Kyuhyun bersandar perlahan di tiang kayu penyangga kanopi tempat tidur Sooyoung.

” Aku sedang tidak pada suasana ingin bercanda, Kyu.” Jawab Sooyoung lirih.

“Lalu? Dalam suasana apa kau saat ini, lass?”

Sooyoung mendelik pada Kyuhyun dan mendesis marah. Kyuhyun tertawa terbahak saat memperhatikan Sooyoung berbalik memunggunginya. Kyuhyun melaju perlahan ke arah kepala Sooyoung yang terbaring di atas bantal bulu angsanya. Dia menunduk di atas kepala Sooyoung, menggunakan jemarinya untuk memaksa Sooyoung melihat ke arah matanya. Kyuhyun terhenyak seperkian detik saat melihat bayangan gadis kecil yang dulu pernah dilihatnya, dalam mata Sooyoung. ” Ya Tuhan,lass. Ada apa denganmu?” bisik Kyuhyun sebelum menegakkan Sooyoung dari tidurnya. Kyuhyun meraup pelan rambut yang menjuntai di wajah Sooyoung. Dia tak pernah melihat pancaran mata itu lagi selama ini.

” Aku ingin sendiri, Kyu. Please. “

” Kau tahu aku lebih baik mati, dibanding melewatkan musim berburu ini tanpa kawan yang selalu membuat onar bersamaku.” Kyuhyun mengelus pelan rambut Sooyoung yang berantakan. ” Ceritakan padaku? Apa terjadi sesuatu semalam?” tanya Kyuhyun dengan nada serius. Sooyoung sedikit terhibur saat melihat topeng Kyuhyun juga ditanggalkan saat ini. Berbeda dengan Sooyoung, pribadi Kyuhyun yang sebenarnya lebih gelap dan kaku. Dia bisa lebih parah dibanding Siwon jika mau. Sebaliknya, Sooyoung seperti gadis cilik sepuluh tahun lalu, yang menjerit dan menangis saat dicambuk oleh pengurus istalnya. Dia selalu mencoba bersikap berkebalikan dan membuat kekacauan hanya untuk menutupi kepedihannya. Dia tahu, kebahagiaan tak akan pernah lagi hinggap padanya. Dan keyakinan bisa memiliki Siwon seutuhnya, sebuah pikiran yang sempat terbesit di kepalanya beberapa hari yang lalu benar-benar luntur setelah kejadian kemarin malam.

” Aku pasti terhibur melihatmu mati bosan kalau begitu.” Goda Sooyoung mengalihkan pembicaraan mereka. ” Aku akan menikmati saat melihatmu dikelilingi para debutante membosankan yang akan mengekor di belakangmu seperti domba. Aku akan sangat senang karena tanpaku kau tak akan mampu menghidari mereka, aku bisa sesekali membalasmu. “

Kyuhyun terkekeh lirih. Dia bersyukur selera humor Sooyoung sudah kembali. ” Inilah Sooyoung yang aku kenal. Kau membuat jantungku hampir copot saat melihat sinar mata itu. Aku mohon, demi Loki, jangan pernah menunjukkan sinar mata itu lagi di hadapanku.”

” Kukira kau seorang kristiani.”

Kyuhyun memutar bola matanya kesal. ” Demi Tuhan. Apapun….”

Sooyoung terkekeh lirih. Dia bersyukur memiliki Kyuhyun di sampingnya. Tak banyak yang tahu hubungan mereka lebih erat dibanding dengan yang terlihat. Tapi satu hal yang membuat Sooyoung dan Kyuhyun menyesal, tak akan pernah ada cinta di antara mereka. Cinta akan merubah segalanya. Hubungan mereka terbentuk karena saling membutuhkan dan melengkapi karena persamaan nasib di masa lalu. Sooyoung tahu Kyuhyun juga tak akan setuju dengan hadirnya cinta diatara mereka. Karena itu akan membuat mereka terpisah. Dan mereka tahu ada hal yang penting seperti jalinan kekeluargaan yang menyatukan Kyuhyun dan Sooyoung.

nb : demi Loki di sini dimaksud seperti menyebut demi Tuhan. Hanya saja Loki adalah dewa kematian yang dipercayai orang kaum Viking. Bagi pemuja dewa dan berhala saat itu, umat Kristiani dijuluki kaum penganut agama baru, kaum yang memuja Tuhan. Sama halnya dengan orang Yunani yang menyebut Demi Zeus, dewa mereka, orang Norwegia menggunakan nama dewa-dewinya untuk menyumpah. Kalo pada umunya sama artinya dengan Demi Tuhan. Dan jika pada orang islam Demi Allah :D.

******************************

Sooyoung berkeras turun ke pesta dansa malam itu. Dia memilih gaunnya dengan cermat, memaksa pelayan pribadinya untuk mengurai kekusutan di gaunnya yang paling mewah dan baru didatangkan dari London pagi tadi. Ia membubuhkan sedikit bedak di rambutnya yang coklat, mengagumi bayangannya sendiri dengan rambuntnya yang ditata ikal, berbeda dari mode ton yang sedang populer saat ini. Benar saja, pelayan pribadinya bahkan sampai terkesiap kagum saat Sooyoung selesai berdandan, memutar-mutar badannya ke kanan dan ke kiri.

“Bagaimana penampilanku, Dorris?” tanya Sooyoung sambil memeriksa tatanan rambut belakangnya dengan kaca.

“Oh! Anda lebih cantik dari biasanya, Milady!” pelayannya berkata dengan semangat sambil merapikan jarum dan benang yang berserakan. Dorris tersenyum lirih saat merasakan semangat majikannya kembali membuncah. Selama dua hari ini Sooyoun terus mengurung diri dalam kamar. Dorris sempat khawatir saat Sooyoung menolak sarapan dan makan malam, wanita itu selalu terbaring lemas dalam kamarnya. Untung saja Kyuhyun mampu mengembalikan semangat Sooyoung yang sempat menghilang.

Sooyoung bergegas membawa kipas kesayangannya yang khusus dia pesan dari Yunani. Di kipas itu terdapat siluet perjalanan cinta Orpheus dan Eurydice yang membuatnya bergetar saat pertama kali membaca mitologi itu.

Setelah pelayannya memberikan sepasang sendal manik bercorak hijau dengan bahan tipis itu, dia sudah siap untuk turun.

Pestanya berlangsung sangat megah. Meja-meja yang digunakan untuk makan malam mewah kemarin sudah menghilang digantikan oleh permadani lebar yang bahkan bisa membuat kaki telanjang tergelitik karena kelembutannya. Sooyoung mulai memasang topeng setengah wajahnya yang berwarna emas dan dihiasi manik panjang di kedua sisinya. Elegan dan menawan.

Dia bertemu dengan sepasang suami istri yang langsung mengangguk sopan kepadanya. Sooyoung meneliti ruangan yang sudah mulai penuh sesak oleh tamu undangan. Lilin dengan jumlah berlusin-lusin dinyalakan secara bersamaan, para lady dengan gaun mewah mereka dan segala macam topeng aneka warna memenuhi ruangan itu.

Sooyoung melangkah ke arah kumpulan pria yang sedang berdiskusi dengan seru. Sooyoung mendekat dan menguping sejenak. Dia mendengar gumaman dan kekehan lirih dari pria itu saat membicarakan soal perjudian dan wanita. Sooyoung memutar bola matanya dengan kesal. Lelaki selalu sama, di dalam otaknya hanya ada tiga hal. Minuman keras, judi, dan wanita.

Sooyoung bisa merasakan punggungnya terasa dingin. Ia mendengar langkah kaki ringan seorang lelaki yang berhenti tepat di belakagnya. Sooyoung kembali merasakan sengatan listrik di tulang belakangnya saat merasakan lelaki itu berdiri di belakangnya. Siwon. Sooyoung bisa merasakan lelaki itu menyentuh bagian belakan gaunnya yang melebar.

Sooyoung menahan napasnya lirih saat menyadari desir amarah di hatinya kembali merayap ke permukaan. Dia harus menghindari Siwon sebisa mungkin, menunjukkan pada Siwon jika lelaki itu menganggap dirinya adalah kesalahan, maka itulah yang didapatnya. Kekacauan dan skandal. Sooyoung tersenyum lirih saat merasakan lelaki itu menggeram lirih di belakang punggungnya. Bukan hanya Sooyoung yang merasakan ketertarikan janggal diantara mereka, dan ciuman mereka cukup menjadi bukti bahwa rasa tertarik Rutherford padanya tak kurang dari rasa tertariknya sendiri.

Dengan gerakan anggun yang dipaksakan Sooyoung berbalik dan menghadap Siwon yang menatapnya dengan tatapan berkabut. “My Lord,” Geram Sooyoung lirih. ” Pesta dansa yang sangat indah.” Lanjutnya kaku. Sooyoung menatap Siwon yang mengenakan stelan hitam yang membalut tubuhnya seperti kulit kedua. Kemeja putihnya dibalut dengan waistcoat bewarna abu-abu yang sesuai dengan warna cravat-nya. Matanya ditutup dengan topeng hitam sederhana, namun mampu menonjolkan tulang pipinya yang tirus. Pancaran matanya begitu tajam dan menguatkan kesan maskulinnya.

” Aku senang kau menikmatinya,” Jawab Siwon lirih. ” Aku dengar kau sakit? Apa kau sudah lebih baik?” bisik Siwon seraya mengulurkan tangannya ke pipi Sooyoung.

Sooyoung terhenyak dan menghindar dari sentuhan Siwon. ” Orang bisa melihat, My Lord! Bukankah kau tak ingin memberi kesan yang salah pada mereka. Ini kesalahan, bukan begitu?”

” Kita memakai topeng, Soo. Aku tak yakin mereka mengenali kita.”

Sooyoung terkekeh lirih. Sooyoung tahu, Siwon ragu dengan perkataanya. Siapapun di ruangan ini tak ada yang bisa melebihi tinggi sang Duke. Dan siapapun di ruangan ini pasti dapat mengenali sosok Sooyoung walau dengan balutan topeng di wajahnya. Dia tak pernah membiarkan dirinya menghilang di balik kamuflase topeng. ” Tapi kau mengenalku, My Lord.” Kata Sooyoung diwarnai nada tersinggung. Jadi hanya karena orang lain tak akan mengenali mereka, Siwon merasa tak masalah menunjukkan kedekatan antara dirinya dan Siwon. Bajingan. Dia menyamakan Sooyoung dengan wanita simpanan.

” Dari caramu menghindariku selama dua hari ini, aku rasa kau masih marah.” Kata Siwon seraya menarik tangan Sooyoung ke lengannya. Sooyoung melakukan protes perlahan, tapi tekad Siwon menahannya untuk tetap berjalan di sampingnya. Mereka berhenti di salah satu kamar kosong yang jauh dari pesta. ” Kenapa kau begitu marah, Soo?” lanjut Siwon setelah memastikan tak ada yang mendengar. Lelaki itu membuka topengnya perlahan dan mendekat ke arah Sooyoung.

“Dan kenapa kau menarikku ke dalam kamar, My Lord. Dan kau memaksaku, bajingan!”

” Kau kasar sekali, My Lady.”

“Oh! Inilah aku, My Lord. Apa kepalamu terbentur, hingga membuatmu lupa siapa aku? Bukankah wanita sepertiku termasuk dalam daftar pembuat onar dalam catatan kecilmu. Atau kau membutuhkan bukti untuk menyegarkan ingatanmu?”

Siwon mengerut murung. Dia berusaha keras mencari penyebab kemarahan Sooyoung yang tak beralasan. Siwon memang dikenal sebagai lelaki dingin, tapi kakaknya, Victoria tidak membantunya sama sekali saat dia mencoba menanyakan perihal Sooyoung. Wanita itu hanya tertawa dengan nada lucu dan menyebutnya lelaki bodoh saat dia menceritakan amarah Sooyoung yang berlebihan, saat dia mengatakan ciuman mereka di taman adalah kesalahan.

” Apa kau merasa terhina karena aku menciummu dan membuatmu bergairah, tapi tak melanjutkannya?”

Sooyoung mendelik tak percaya. ” Demi Tuhan, Rutherford, darimana datangnya pemikiran itu?”

” Apa kau takut namamu tercemar? Tapi bukankah itu yang kau tawarkan padaku, Soo. Kepuasan tanpa ikatan?”

Sooyoung meremas jemarinya dengan kesal, mencoba menahan diri untuk tidak memukul wajah Siwon. ” Lebih baik hentikan, Rutherford. Sebelum aku mematahkan hidungmu.”

Siwon tersenyum lirih melihat kekesalan di wajah Sooyoung. Dia menarik lembut dagu wanita itu dengan jemarinya. Melepas topengnya perlahan dan menikmati wajah memerah dibaliknya. Sooyoung selalu cantik, dia tak tahu sejak kapan perasaan untuk selalu beradu mulut dengan wanita itu menjadi kebutuhan baginya. Cengiran jahil Sooyoung, senyum lembut saat dia benar-benar tertawa, dan tatapan sinis yang selalu terpasang di matanya seperti kelibatan yang tak pernah bisa dihapus Siwon dari pikirannya. Dia merasa ciuman mereka di taman adalah kesalahan, karena dia merasa Sooyoung belum resmi menjadi miliknya. Tapi pernikahan bukan sesuatu yang Siwon yakini sebagai cara mendapatkan Sooyoung. Dia memikirkan cara lain yang pasti lebih sesuai untuk wanita itu. Sebuah kesenangan tiada akhir tanpa ikatan yang membuat Sooyoung tetap bebas dan bisa menjalani kehidupan liarnya. Siwon tak keberatan, dia akan melimpahi Sooyoung dengan emas dan berlian, gaun mewah, dan uang yang melimpah. Saat Siwon menikah kelak, istrinya harus bisa menerima Sooyoung sebagai simpanan tetapnya. Hatinya hanya untuk Sooyoung. Tapi pernikahan resmi harus dilakukan, dengan lady yang lembut dan mampu bertahan dalam kekangan tata aturan bangsawan. Dia akan menemukannya, nanti. Tapi saat ini dia menginginkan Sooyoung untuk dirinya sendiri. Menyentuhnya, menyatukan tubuh mereka, dan Demi Tuhan, siapapun tahu selama ini Siwon tak pernah melakukan hal tercela seperti itu, belum. Hanya Sooyoung yang mampu membangkitkan perasaan primitif untuk memilikinya itu. ” Soo, Aku ingin kau menjadi Mistressku.” Bisik Siwon perlahan di telinga Sooyoung yang rapuh. ” Aku akan memberikan segalanya padamu, aku akan memberimu kebebasan. Asal kau jadi milikku. Demi Tuhan, aku tak pernah menginginkan seseorang seperti ini sebelumnya.”

Alih-alih terhanyut dalam suasana mendayu itu, Sooyoung memberontak marah saat mendengar tawaran Siwon. Dia menjerit kesal pada Siwon. ” Mistress? Demi Tuhan…..,” Sooyoung meremas gaunnya dengan tegang. Dia ingin menghujam lelaki itu dengan kukunya. ” Kau kira aku ini apa? Aku anak seorang Duke. Demi Tuhan. Aku wanita terhorma Rutherford! Berani sekali kau, bajingan!”

Siwon tak mengerti dengan kemarahan yang muncul kembali dalam diri Sooyoung. ” Tapi bukankah itu yang kau inginkan?”

” Yang kuinginkan adalah kematianmu, Rutherford. Kau lelaki bajingan.” Sooyoung menutup matanya, kendali dalam dirinya sudah hampir habis. ” Simpanan?”, bisik Sooyoung pada dirinya sendiri. Begitu rendahkah penilaian Siwon terhadap dirinya. Simpanan. Sooyoung akan menjadi simpanan. Tak cukup pantas untuk bersama di pesta dengan lelaki yang dicintainya. Dan hanya menjadi pihak yang jahat. Melahirkan anak haram seperti saudaranya,Fanny. Dan hidup hanya untuk menyiksa istri sah Siwon.

Sooyoung tertunduk lemas, selama hidupnya dia merasa tersiksa dengan kehadiran Minerva dalam hidupnya. Simpanan ayahnya telah berhasil membuktikan perkataanya. Dia mendidik Fanny untuk menjadi anak kesayangan ayahnya, dan menjadikan ayahnya semakin membenci Sooyoung yang selalu memberontak. Ibunya semakin benci padanya, ribuan lecutan sudah membekas di kakinya, tapi Sooyoung bertahan, hanya untuk membuktikan dia mampu hidup dengan caranya sendiri. Tapi saat ini, di sini, lelaki satu-satunya yang pernah mengundang ketertarikan dalam hatinya, memintanya menjadi pelacurnya. Simpanan. Seperti Minerva. Sooyoung terkekeh lembut saat memikirkan takdir yang diatur oleh Tuhannya. ” Kau menghinaku. Kau menghinaku, My Lord.” Geram Sooyoung lirih. Secara samar ia mengingat penjelasan Kyuhyun tentang titik lemah seorang lelaki.

Saatnya membuktikan teori itu, pikir Sooyoung.

Sooyoung bersiap melemaskan kakinya, memeriksa jarak yang pas untuk menciptakan tendangan lutut yang pas pada bagian bawah tubuh Siwon yang paling sensitif. Lalu Sooyoung melepaskan tendangan lututnya menyebabkan Siwon mengaduh dengan keras, bola matanya melotot seperti mau keluar. “Arghhh!! ” Geram Siwon kesakitan. Siwon membungkuk dengan kedua tangannya yang masih berusaha meredakan sakit di kedua pahanya.

” Itu hukuman bagi lelaki yang meremehkanku, My Lord. Kau tahu, My Lord?. Kau harus banyak belajar soal wanita sebelum meminta mereka untuk menjadi simpananmu,” Sooyoung tersenyum kejam. Dia merapikan gaunnya yang tak kusut. “Jangan pernah menggangguku lagi, My Lord. Selanjutnya akan lebih parah dari itu.” Ujar Sooyoung dingin, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan dagu terangkat. Saat ia membuka kenop pintunya, ia berbalik sedikit. “Dan selamat malam, My Lord.” Katanya ceria.

Siwon mengumpat-umpat dengan suara keras. Gadis brengsek! Sialan! Sakit sekali! Sial siaaalll!

*********************

-TBC-

Link :

Chapter 1 Chapter 2

Ok Saatnya sekarang catatan kaki. Sesuai permintaan Delia Choi, yang meminta perbanyak ilustrasi gaun, kami akan menjelaskan dulu periode perubahan mode di London. Di London banyak sekali era, diantaranya Tudor , Medival, Georgina, Victoria, Rennaisance :D.

Berikut Gambarnya :

fashion-plates-georgian-era-1760-to-1820 (1)

Ini hanya sebagian sih ya, karena ini cuman Georgian era kisaranya antara 1760-1820

Nanti kalo mau lebih lengkap masalah peradaban inggris dan beberapa negara lainnya, termasuk Viking dan Kelt akan saya bahas tapi di WP pribadi ya :D. Kalo mau aja sih 😀 .

Sementara itu dulu, mian kalo membosankan banyak taypo dan aneh dan alay.

Nidya dan Adaya berharap gak ada SHIDER di FF ini.

14

Happy Reading ya …

Buat SHIDER nih Adaya ma Nidya kasih :

35

Advertisements

18 thoughts on “[ FF ] Dare To Tempt a Duke – Chapter 3 –

  1. whoaaa, kasihan soo, tp disini soo jd gadis yg kuat, fighting..!!
    cerita’a kereeennnn, tumben ada FF yg tema’a bangsawan inggris, biasa’a baca di komik2 aja.. kkkk
    author.. hwaiting..!! ditunggu next part’a.. 😀

  2. Baru nemu blog ini. Dan seriusan.ini keren…..
    Gmbaran ttg khdupn msa lalu’y keren bgt. ga bosen baca’y…. :-):-):-):-)

  3. lhooo… ternyata blognya bedaa. pantesan komen komenku nggak ada -_-
    tapi ini yang asli ya? ada komen authornya ternyataa.
    lanjutin pleasee.. aku suka genre ini. fresh banget.

  4. kurang suka sma masa lalu.y trlalu kejam..huhu
    Blm ada lanjutan.y ya Ka? msh pd sibuk ya? Kangen bgt sma ff ini,,

  5. q lbh tertarik ma cerita soowon dr pd kyuna. yoona terlalu kalem, jd kurang greget. soowon bnyk konfliknya dan karakternya sm2 kuat.
    dan sumpah Siwon kurang ajarnya kebangetan. klo q jd Soo, udah q ksi tendangan bawah dr awal.
    haha
    next chap chingu
    q tunggu ^^

  6. cerita nya bagus bgt,serasa kayak baca novel tpi pemerannya sooyoung ma siwon,daebak chingu ditunggu next part nya

  7. Soo eon tabah bgt ngadepin cobaan hidup’a. Huhu
    siwooon! Berani2’a mw jdiin kakak w simpanan u.. Oh my!
    Ditunggu next part’a..

  8. this is my first in this page..
    daebak..storynya asik banget..ga mengedepankan sexnya tp ceritanya..sukaa..ini uda lama kann ya??ayoo author dilanjutt!!hwaiting

  9. Kerennn banget ffnya
    bru kali ini dpat ff yg critanya tentang kerajaan” di inggris /?
    Baguss baguss, di lanjut dong ffnya, syang banget klw nggak di lanjutin

  10. Siwon gk ngerti, dan tak tau masa lalu soo..
    Masa iya, dy d tawarin jd kyk orang yg merusak hidupnya..
    Aku bisa merasakan seperti apa rasanya sooyoung eonni.. 😥

    ya ampun, kyu perhatian bngt ya sama soo..
    mereka deket bnget ya..
    ngiri deh, pengen punya sahabat kyk gt jg.. 😀

    daebakk thor, selalu keren, serunya.. Lanjuuuuttt 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s